Minggu, 25 April 2010

5 TRIK PENDIDIKAN ANAK TERBAIK

Anak malas? Susah
diatur? Kurang berprestasi di sekolah? Susah
untuk konsentrasi? Sering membuat ulah atau masalah? Hiperaktif, bandel, nakal,
inferior, acuh?

Demikian kurang lebih serangkaian
permasalahan yang barangkali kerap dihadapi oleh kita, para orang
tua. Apa, siapa yang salah? Bagaimana mengatasinya? Menyekolahkan anak di sekolah
favorit, belum tentu menyelesaikan permasalahan ini.

Baiknya kita tidak perlu buru-buru
menyimpulkan “ketidakmampuan” si anak, atau guru dan sekolahnya, sebelum
membaca tulisan ini (he..he.. promosi nih…).

“Tiap anak adalah individu
yang unik” Kenyataan inilah yang musti tertanam kuat pada kesadaran pikiran
kita.

Kakak-adik saudara kandung, yang
berasal dari rahim yang sama, ayah yang sama, dididik dalam keluarga yang sama,
tumbuh dalam lingkungan yang sama pula, sekolahnya pun sama, pun demikian, tetap
saja keunikan individu tiap anak
tetaplah eksist. Mulai dari sifat, tabiat, karakter, kecenderungan personal
pada tiap anak, bahkan sampai pretasinya, juga berbeda-beda.

Maka, berangkat dari kondisi
internal personal si anak yang berbeda-beda tersebut (unik), kita akhirnya
menyadari bahwa penerapan pola asuh ataupun sistem pendidikan yang seragam
(generic), bisa jadi memang kondusif pada type anak tertentu, dan bisa jadi kurang
kondusif atau justru malahan kontra produktif pada type anak yang lainnya.



Berhubung hampir semua sekolah
formal yang ada menerapkan sistem dan pola pendidikan yang (relatif) sama, maka
pada akhirnya, pendidikan non-formal di keluarga-nyalah yang menjadi faktor
penentu nan penting.

Berikut 5 tips untuk meningkatkan
kwalitas pendidikan anak dari lingkup keluarga.

Jaga Citra
Diri Anak. Ketika para orang tua bertemu, entah ketika dengan sesama
teman, saudara, bertamu, atau ketika ngerumpi dengan para tetangga, tidak
jarang anak menjadi obyek pembicaraanya. Hendaknya dihindari keluhan atau
ungkapan negatif tentang anak, terutama ketika si anak bisa mendengar langsung
pembicaraan tersebut. Karena disadari atau tidak, hal demikian membentuk
citra negatif pada diri si anak.

Misalnya
ungkapan seperti “Kalau si adik mah susah dibilangin, heran deh…”

“Anak saya
yang nomor dua itu, susahnya minta ampun kalau disuruh belajar”

“Si Ujang manjanya
nggak karuan, sukanya bantingin apa aja kalau lagi ngambek”

Apalagi sampai
mengadu, misalnya ke ayahnya (suami) “Coba bayangin pa, si bontot dari siang
main PS terus gak mau berhenti, sampai lupa sholat, lupa makan, gak mandi,…”

Termasuk dalam
hal ini, membandingkan si anak yang satu dengan yang lainya (atau anak yang lain).
Sebaiknya hindari juga.



Tentu saja
memantau kekurangan atau kelemahan si anak, membandingkan dengan keadaan anak
yang lainnya, memang perlu, sangat perlu bahkan. Tapi hendaknya hal tersebut dibicarakan
di forum “prifat atau eksklusif” dimana si anak tidak mendengarnya.
Itupun konteksnya adalah menganalisa perkembangan si anak, dalam rangka mencari
treatmen atau tindakan perbaikan selanjutnya. Bukan dalam rangka ngegosip yang
sifatnya hanya menjadi komoditas perbincangan saja.



Ungkapkanlah,
hal-hal menonjol yang positif dari si anak, pujian dan kebanggaan, manakala
kita berbincang-bincang dengan orang
lain dan ketika si anak bisa mendengarnya. Hal ini akan menumbuhkan citra diri
yang positif si anak, confidence dan kenyamanan.

Anak dengan
citra diri posistif yang kuat, confidence yang kental, nyaman dengan
lingkungannya, Insya Allah merupakan modal awal dalam meningkatkan prestasi di
bidang-bidang yang lainya.



Sensistifitas
Motivasi. Memberikan atau mengiming-imingi anak dengan suatu hadiah
fisik (material), supaya anak melakukan hal-hal yang kita inginkan dalam
rangka memotivasi anak, memang perlu, tapi sebaiknya dibatasi, jangan
terlalu sering atau terus menerus. Karena hal ini secara tidak langsung,
kita mendidik “materilistis” atau pengharapan pamrih/imbal balik. Dan
dalam taraf tertentu, hal ini sangat potensial untuk menghilangkan konsep;
kesadaran, kewajiban, ketanggapan, keikhlasan, pada jiwa si anak.

Memang, anak
mana sih yang nggak suka coklat, kue, mainan baru, tamasya? Maka, motivasi
dengan hadiah-hadiah memang dirasakan cukup efektif. Tapi apakah hal ini
benar-benar mendidik si anak? Atau hanya suatu stimulus yang sifatnya instant
dan temporer? Karena nafsu dasar manusia adalah “ingin lebih”, maka pola
perilaku demikian sering menjadi bumerang bagi orangtua.

Ada
alternatif lain yang lebih mendidik dengan efktifitas yang relatif sama dengan
pemberian hadiah materi.

Upayakan
eksplorasi yang lebih dalam tentang hal-hal non-materi yang menjadi
sensitifitas si anak. Biasanya si anak mempunyai suatu hal yang digemari, yang
sering dia bicarakan atau ceritakan. Walaupun kadang memang sering gonta-ganti,
tapi ladeni dan teruskan eksplorasi saja. Kemudian transfer-lah penjiwaan tadi
pada kenyataan
di lingkup si anak.

Misalnya, si
anak sangat gemar sekali dengan film/komik Naruto. Mungkin memang perlu
memberikan mainan atribut Naruto, tapi manfaatkan momentum mendidik anak, dengan
“penjiwaan” Naruto yang ditransfer pada lingkup realita si anak.

Misalnya
menggiring si anak “Naruto itu keren banget ya? Yang keren dari Naruto itu
apanya sih…?”

Misalnya
sifat-sifat baiknya yang rela berkorban untuk orang2 yang disayang, tidak
cengeng, berusaha dengan sungguh-sungguh.

Kemudian
diajak untuk membangun motivasi “Kalau adik, sudah keren kayak Naruto apa belum
ya?”

Dan diarahkan
doktrin yang mengarah pada implementasi praktisnya

“Adik ikut
kursus Karate aja, biar keren.”

“Adik kan
nggak cengeng, bearti sudah keren dong”

“Biar keren,
adik mau kan berkorban untuk
orang yang adik sayangi? Adik Sayang Mama kan? Kalo adik mau berkorban demi
Mama, baiknya adik melakukan apa ya?”

dst.

Dan hal serupa
bisa dilakukan dengan tema yang beraneka ragam tergantung pada sensitifitas
yang sedang dilanda si anak.

Memang tidaklah
mudah dalam mengolah dan menggiringnya, dan hasilnyapun tidak bisa langsung
terjadi, dan biasanya butuh waktu serta pengulangan berkali-kali hingga bisa
terlihat dampak praktisnya maupun tumbuh penjiwaannya.





Subyektifitas
Tema. Bagi anak yang agak tertinggal pelajaran di sekolahnya,
terkadang pemicu permasalahannya adalah tentang “kemasan penyampaian” yang
kurang menarik bagi anak saja.

Misalnya, si anak
agak lemah pada pelajaran matematika. Bisa diupayakan membantu memahami dengan
menggunakan tema-tema yang disukai si anak. Katakanlah si anak sangat gandrung
dengan Superman, bisa dicoba sebagai tema sentralnya, misalnya;

Wah Superman
harus menyelamatkan planet Jupiter yang terkena radiasi Gumma, caranya Superman
harus terbang dengan kecepatan tinggi mengelilingi planet Jupiter. Lintasan
terbang Superman berbentuk …..LINGKARAN!

Atau dipakai
dengan yang lain, misalnya kalau mencegah serangan radiasi Gruyuk, harus
terbang dengan lintasan…. SEGITIGA.

Dst.

Superman
berhasil menangkap gerombolan penjahat, dan mau dibawa terbang ke penjara
Nusakambangan. Supaya Penjahatnya tidak mati ketika dibawa terbang dengan
kecepatan super, harus dimasukin ke kantong bioplasma. Satu kantung hanya muat
2 penjahat. Padahal penjahatnya ada 6, berarti Superman butuh berapa kantung
bioplasma..?

Dst.



Hal ini bisa
dicoba diterapkan pada pelajaran ataupun hal yang lainya. Memang dibutuhkan
kreatifitas orangtua untuk itu.



Pujian dan
“Acuh”. Dalam sistem professional, kita mengenal sistem reward and
punishment dalam rangka mensolidkan suatu tatanan budaya atau sistem nilai
tertentu. Hal yang mirip, bisa diterapkan dalam mendidik anak kita.

Pujilah si
anak, ketika ada hal-hal positif yang dia lakukan atau dia capai. Ekspresikan
perhatian, dan kasih sayang misalnya dengan pelukan atau ciuman.

Misal si anak
mengaku “Ma, kemarin adik ngambil uang dari dompet mama seribu, habis adik
pingin jajan sih”

Sebaiknya
jangan merespon dengan marah, ngomel2 bahwa ambil barang milik orang harus
bilang dulu, dst. Hargai kejujuran dan keterbukaan si anak. Pujilah
ketrusteranganya dan keterbukaanya, karena hal ini adalah lebih utama. Karena
dengan terbangunya keterbukaan dan keterusterangan, aneka masalah-masalah bisa
dipantau secara optimal.

Kalau toh
ingin “mengingatkan” si anak tentang ngambil barang orang
harus minta ijin, dst, baiknya lakukan di lain waktu, pada suasana yang lebih
fresh.



Sedangkan
hal-hal yang negatif, misalnya anak ngambek nangis, atau bahkan memporak
porandakan mainan, atau gulung-gulung badan, acuhkan saja. Jangan beri
perhatian. Seolah ungkapan verbal, “Hal itu nggak bagus, makanya nggak saya
perhatikan.” Si anak akan belajar untuk membiasakan terhadap hal-hal yang
positif dan belajar sistem komunikasi yang lebih membangun.

Kalau misalnya
si anak ngambek dan kita marah, ngomel, dst, seolah si anak secara verbal
berkata “Tuh kan, kalau saya
begini, baru kamu memperhatikan saya… Tuh kan,
kamu juga bingung dan kerepotan kalau saya begini…”

Dan tentu saja
hal ini tidak berlaku ketika si anak menangis karena menderita kesakitan atau
kelaparan, tentu harus kita perhatikan betul-betul.





Tunjukan
Contoh konkrit. Konsistenkan dan solidkan antara seruan normatif,
perintah verbal dan pengkondisian konkritnya. Misalnya menyuruh belajar, mungkin
lebih baiknya dibangun suasana “mengajak” anak belajar, dan kita sendiri juga
ikut terlibat, atau minimal kita mencontohkannya, misal kita juga membaca
buku, atau apa.

Hindari
perilaku ketika kita menyuruh si anak belajar sementara orangtuanya malah
nonton sintron, atau internetan.

Hindari
menyuruh anak sholat & ngaji misalnya, sementara orang tua justru tidak
melakukanya.

Orangtua
melarang berbohong, sementara ketika si anak ngangkat telepon, Bapaknya bilang
“Kalau Om Jono yang nyari, bilang aja Bapak lagi keluar.”

Hal demikian
ini jelas membangun ajaran “omong kosong” pada si anak.

Dan secara alam
bawah sadar, hal-hal yang kontradiktif tersebut akan merapuhkan prinsip nilai
yang dipegang si anak yg bisa jadi terakumulusi di kemudian hari.



Demikianlah sharing dari saya. Tentu
saja tidak bisa langsung diterapkan begitu saja pada anak-anak anda. Setidaknya
harapan penulis, gagasan atau wacana ini, bisa menginspirasi anda, dan anda sendirilah
yang berkreasi dengan praktik-praktik yang paling sesuai dengan kondisi anda
masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar